Kamis, 11 September 2008

Operasi ala pengobatan alternatif

" Dok, istri saya mau minta di-USG ulang.." Permintaan suami pasien yang menderita batu empedu banyak (multiple) dan batu ginjal kanan.
" Wah, kan baru 2 minggu makan obat pemecah batunya, belum ada kelihatan beda lah,pak.."Jawab saya tersenyum.Si ibu ceritanya nih gak mau dioperasi, sehingga minta obat dulu untuk pemecah batu ginjal dan batu empedu, yang biasanya kalau ada respons, baru tampak ada perubahan gambar USG setelah 3 bulanan.
" Maaf, dok ini batunya sudah keluar..." Kata si bapak menunjukkan batu putih 3 buah setengah sampai 1 cm kira-kira panjangnya.
" Maaf, batu itu keluar waktu ibu kencing?" Tanya saya penasaran.
" Bukan, dok. Jujur saja kami ke pengobatan alternatif....Dukun itu pakai keris ditempelkannya di perut istri saya, lalu dengan kapas dia ambil sesuatu di daerah yang ada di ujung keris itu, didapatlah batu ini. Ini batu empedu, dok." Jawabnya bangga.
Penasaran saya USG ulang si ibu dan ternyata gambaran batu empedunya masih ramai dan batu ginjalnya masih ada, si pasien kena tipu.
" Lho, kalau begitu, batu tadi diambil dukun dari mana?" Tanya si bapak kesal.
" Gak tau pak, mungkin dia terambil batu empedu pasien lain...Tanya aja ke dia pak...." Jawab saya tersenyum geli.
" Wah, saya harus protes nih, enak bener pasien lain yang hilang batu empedu, kok saya yang harus bayar dukunnya..." Wah, padahal saya becanda, tapi si bapak yang keburu emosi langsung pergi, mungkin langsung ke rumah si dukun....
Lucu juga cara dukun sekarang, mereka berani memakai istilah medis: operasi, periksa dalam, cuci darah kotor...dll, dan masyarakat tertentu ternyata masih banyak yang percaya....

Selasa, 09 September 2008

Antara manusia, mobil, dokter dan montir

Manusia bukan mobil!
Dokter bukan Montir!

Tapi ada kemiripan antara manusia dan mobil juga para juru perbaikannya. Manusia yang masih muda dan sehat ibarat mobil baru, tetap harus diservis, di-check-up walau tidak sakit/ mogok.
Manusia yang sudah sepuh dan mobil antik perawatannya harus hati-hati, dan onderdilnya sudah mulai banyak rusak, jika sudah dirawat/ masuk bengkel pasti biayanya besar.

Dokter dan montir mendengar suara/ merasakan getaran jantung/roda/mesin orang muda/mobil baru, pasti cepat mengetahui dimana sakit/ kerusakan mesinnya. Tapi kalau manusia sepuh/ mobil tua, harus lebih lama memeriksa dan biaya pemeriksaan besar/ harus turun mesin dulu baru didapat kesimpulan dan tindakan mengatasinya.

Keluarga pasien tua terkadang sudah mengerti obat/ gejala penyakit si pasien karena sudah lama terlibat dalam kondisi sakit kronisnya. Pemilik mobil tua/antik sebagian besar sudah tahu kerewelan mesin mobilnya. Baru jika keluhannya luar biasa dan tidak dapat teratasi cara biasa, mereka ke rumah sakit/bengkel.

Mirip, kan? Tapi mobil tak punya perasaan. Diservis di bengkel kampung atau bengkel modern dia tidak masalah, yang penting montirnya ahli. Manusia tertentu tambah sakit dibawa ke dokter/ tempat pengobatan yang baginya tidak sesuai seleranya. Manusia terkadang fanatik dokter tertentu dan tidak mau dijamah/diperiksa dokter lain, tapi mobil tak masalah siapa pun montirnya.

Dokter yang baik harus mengkondisikan satu manusia dengan satu keadaan yang unik, tidak dianggap sakit yang sama pada manusia yang berbeda, obat dan perlakuannya sama. Bahkan pada satu orang pun dengan penyakit yang sama, pada waktu yang berbeda, pendekatannya tidak harus sama. Montir dapat memperlakukan mobil satu merk dengan kerusakan yang sama dengan cara yang sama sesuai petunjuk modulnya.

Ada kemiripan, tapi tetap keduanya tidak sama. Namun yang bikin sulit takala dokter menganggap dirinya montirnya manusia, rumah sakit menganggap dirinya bengkel manusia dan pasien mengharapkan dokter bekerja pakai modul ala montir mobil.

hi

wah